TI____________5

TI____________5
"Kampusku Tercinta"

Senin, 09 April 2012

Rumput Tetangga Bukan Rumputku




Saya sering sekali mendenger “rumput tetangga lebih indah” yang secara harfiah diartikan bahwa yang orang lain miliki lebih bagus dari yang saya miliki, kalau saya mengulang ngulang kalimat ini tentu saya berpikir lagi, “kalau gitu jangan lihat rumput tetangga, tapi lihat rumput sendiri” jadi kita tak merasa rumput disebelah lebih indah :) selesai urusan, tapi kan gak bisa gitu yah? karena tanpa melihat keluar maka saya tak akan tahu seberapa jeleknya saya :P tanpa tahu saya jelek maka saya tidak akan mau berpikir untuk memperbaiki yang jelek jelek ini, so “jadi gimana dong De, agar tetep melek liat keluar tapi gak merasa jelek” hahhaha… pertanyaan bodoh tidak dijawab kata hati nurani saya
Ok, mari duduk manis dan menyimak, saya kutip dari status fesbuk saya yang selalu hebat kata katanya, hayah !! iya betul, karena inilah rumput saya toh :)
Ada yang tidak perlu kita cari diluar diri kita, yaitu KEBAHAGIAAN.
Iya, bahagia TIDAK perlu kita cari jauh diluar, karena bahagia ada dalam diri kita, kita yang menciptakan, siapa bilang uang bisa membuat bahagia, kekasih tampan mampu membuat bahagia, tidak juga. BAHAGIA, ada di dalam diri kita, semakin kita cari diluar sana, semakin hilang kesempatan kita mencari dalam diri kita, bahagialah dengan tubuh yang tak cantik, bahagialah meski sendiri, BAHAGIA tidak perlu syarat (Ade a.k.a Rindu)
Coba renungkan seberapa sering saya merasa bahwa orang lain jauh lebih bahagia dari saya dengan memiliki ini dan itu, sementara saya tidak memiliki ini dan itu, padahal yang saya miliki juga belum tentu dimiliki orang itu, dan orang itu pasti iri juga dengan yang saya miliki, kan dia gak punya..
Artinya manusia memang memiliki anugerah yang berbeda beda … yang saya miliki tidak pernah sama dengan yang dimiliki sahabat saya, dan yang sahabat saya miliki juga belum tentu saya miliki, kalaupun kita memiliki nikmat yang sama, katakanlah memiliki baju yang sama dipastikan saya gak mau pake tuh baju, malulah, masa sama, subhanallah, begitu indahnya perbedaan nikmat yang ALLAH berikan, gak musti sama rumputmu dan rumputku, karena nikmat ALLAH tak pernah saya *bingung mode on*
Intinya adalah rumput tetangga selalu terlihat lebih indah, padahal rumpu saya lebih asyik, tergantung dari bagaimana saya bahagia dengan rumput saya ini tentunya !! tergantung seberapa tinggi rasa syukur saya atas nikmat rumput yang kering ini, kan bagus tuh warnanya coklat kan yah? 
Mari saya beri satu contoh beberapa waktu yang lalu saya sempat terserang penyakit hati berupa iri kepada sahabat saya yang telah berdua, sahabat yang akan menikah, atau sahabat yang mempunya pacar ganteng dan kaya raya pula, semua yang bahagia itu saya pandang dengan mata saya yang sangat terbatas ini, yang terlihat itu yang saya pikir bahagia, ternyata untuk yang menjalani tidak seindah yang saya lihat dari luar, ada yang menikah tapi suaminya galak dan kasar dan ada suami yang mesra ke istrinya tapi mesra juga dengan perempuan lain, wak waw !! :P
Yah begitulah cerita soal rumput, jadi mulai sekarang bolehlah melihat rumput tetangga untuk introspeksi diri bagaimana caranya kita bisa sehijau itu, tapi JANGAN iri, karena hijau belum tentu bahagia …. :)

Keajaiban Senyum

 

Dikampung tempat saya dilahirkan, saya memiliki seorang sepupu “si bolang” :) bocah kecil dari kampung, bocah ini selalu tersenyum kepada siapa saja yang ia temui, bahkan dia membalas mata Ibunya yang melotot saat mainannya berantakan juga dengan senyum, kenakalannya bahkan tak mampu membuat siapapun marah, senyumnya mampu meluluh lantakan hati setiap yang melihatnya :) keajaiban senyum sungguh… atau lebih tepatnya bahasa senyum.
Belajar dari bocah kecil ini, saya mulai paham bahwa apa yang guru mengaji saya katakan senyum itu ibadah sungguh benar adanya, senyum adalah obat duka hati yang tak perlu ditebus diapotik,  sesuatu yang sulit menjadi mudah karenanya :) saya jadi ingat ketika seorang polisi memberhentikan motor saya karena sedikit melanggar aturan, kemudian tanpa sengaja saya tersenyum sekedar mentertawakan kebodohan saya melakukan kesalahan itu, alhasil pak polisi batal mengeluarkan surat tilang dan hanya bilang “lain kali hati hati ya mas” ah padahal senyum itu tidak sengaja loh, tetap mampu mengurai amarah.
Menurut saya senyum itu bahasa jiwa, meluruhkan resah, ketika saya resah maka senyum orang terdekat saya akan membantu saya melewati masa masa resah artinya ibadah bagi yang memberikan senyum karena membantu meringanakan beban sang pemilik resah, bahkan ketika saya tidak memiliki apa apa yang bisa saya sedekahkan untuk mengumpulkan pahala hari ini, senyum adalah salah satu cara mendapatkan pahala :)  
Subhanallah, sudah hati bahagia dapat pahala pula, terbayang gak ketika kita dihisab di akhirat nanti kita akan terkaget kaget karena pahala kita banyak sekali, ternyata itu semua dari senyum yang mungkin tanpa sengaja kita berikan :)
Saya jadi ingat seorang sahabat saya yang dipanggil sang pemilik napas untuk pulang, didetik saat sakaratul maut sahabat saya ini nampak tersenyum, tak terlihat ia merasakan sakit bahkan saat jiwanya berpisah dari raga, dan semua yang berada diruang ICU pada saat itupun lupa menangis, senyum manis perempuan muda saat menghembuskan napas terakhirnya menyuratkan arti bahagia, sahabat saya pasti melihat cahaya yang indah menuju lorong kepulangan bukan lorong yang gelap menakutkan. Iya senyum terakhir ini mampu meluluh lantakan rasa sedih karena kepergiannya, tak ada tangis lagi karena teryakini dengan kehidupan yang lebih indah setelah kepulangannya. Berpulang dengan senyum adalah tujuan akhir napas bukan? :)
Guru mengaji saya pernah mengatakan bahwa ”Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah besabda Janganlah terlalu membebani jiwamu dgn segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dgn hal-hal yang ringan dan lucu sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yg berat ia akan menjadi buta…
Semua kita diberi bibir yang indah oleh ALLAH maka jadikan bibir indah ini ladang ibadah, wajah cantik akan menjadi buruk rupa ketika terhias kesombongan hanya gara gara pelit senyum, masalahnya sang pemilik wajah tidak mengunakan bibirnya sebagai ladang ibadah… Ketika ujian demi ujian ALLAH datang dan kita masih bisa tersenyum ini adalah bagian dari sabar, bagian dari tidak mengeluh dan bagian dari ikhlas.
Jadi mulai hari ini jadikan senyum sebagai ladang ibadah, meluluh lantakan bumi yang kian hari kian panas dan jangan kaget ketika diakhirat nanti timbangan amal kita menjadi berat dan bahkan  mungkin mampu menghapus timbangan dosa dosa kita, maka itu insya ALLAH dari senyum tulus yang kita berikan …
Iya, as simple as that Islam mengajarkan saya lewat si bolang, gampang kan yah mengumpulkan pahala? daripada cemberut, udah bikin wajah cepet tua, orang juga males liatnya, gak dapat pahala lagi, rugi deh !! padahal didunia ini gak ada yang sulit kalau kita memandang semua masalah dengan senyum  :)
Gak punya duit senyum, gak punya pacar ya tetep bisa senyum … jadi jangan katakan betapa besarnya malasah yang ALLAH hadirkan tapi katakan betapa maha besarnya ALLAH yang akan menyelesaikan segala masalah :) senyum aja dulu, abis itu minta diringankan oleh ALLAH, minta diberi jalan keluar dan senyum juga ke ALLAH :) jangan cemberut ke ALLAH apalagi marah, orang tinggal dikembalikan ke ALLAH koq semua masalah, pasti ada jalan keluarnya,
:) Gitu aja koq repot…