TI____________5

TI____________5
"Kampusku Tercinta"

Rabu, 03 Oktober 2012

Belajar dari kehidupan pada lebah

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. [Al Quran Surat An Nahl 68-69]
Petikan kalimat diatas tentu sering kita dengar, ya ayat 68-69 dari surat an nahl tersebut menunjukkan kepada kita bahwa lebah, makhluk kecil yang sering kali tidak kita perhatikan ternyata menyimpan sesuatu yang sangat pentingm sehingga ALLAH mengabadikan makhluk tersebut kedalam Al Quran.
Apa saja kah keistimewaan dari makhluk tersebut yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari hari? Berikut ada sebuah hadist yang artinya kurang lebih berbunyi :
Perumpamaan seorang mukmin itu laksana lebah. Ia makan yang baik, mengeluarkan sesuatu  yang bersih. Dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya). [hadist riwayat ahmad,  al hakim dan al bazzar]
Dari Hadist diatas dapat di ambil tiga pelajaran :

  
1. Mengambil yang bersih
sebagai mukmin, tentu ini adalah hal yang penting, karena bila kita mengisi tubuh kita dengan sesuatu yang bermanfaat, halal, baik itu makanan ataupun hal hal lain, tentu akan membuat kita memproduksi hal hal yang baik pula….
ALLAH berfirman dalam Al Quran  Surat Al Baqarah ayat 168 :
Hai sekalian manusia, makanlah yang halallagi baik dari apa yang terdapat di bumi, danjanganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan;karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyatabagimu.
  • Mengeluarkan yang bersih
tentu kita mengetahui madu, semua tahu bahwa madu sangat berguna untuk tubuh kita. madu dihasilkan oleh lebah setelah melalui proses biologis yang rumit dengan bahan bahan dari bunga bunga yang mereka hinggapi lalu mereka serap sari sari yang ada dalam bunga tersebut.
seharusnya begitu pula seorang muslim, begitu seorang muslim mendapatkan ilmu, bagikan kepada orang lain, begitu seorang muslim mendapatkan suatu kebaikan, bagikan dengan yang lain, sehingga seorang muslim bisa bermanfaat bagi lingkungannya. Sehingga kita akan menjadi muslim yang produktif dengan kebajikan dan kebenaran.
Rasulullah muhammad bersabda :
“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (Hadist riwayat Bukhari).
  • Tidak pernah merusak
seperti yang dijelaskan dalam hadist pertama bahwa lebah tidak pernah merusak bahkan ranting yang di hinggapinya pun tidak dipatahkan olehnya.
begitu juga dengan muslim, seharusnya setiap muslim tidak boleh merusak apapun, bahkan malah memberikan perbaikan, perbaikan aqidah, akhlak, ibadah, melalui dakwah. mengubah segala bentuk kedzaliman.
selain tiga hal yang disebutkan diatas, masih ada beberapa hal lagi yang bisa kita jadikan pelajaran dari lebah :
2. Bekerja keras
lebah adalah hewan pekerja keras. begitu dia menetas dan keluar dari biliknya, dia akan membersihkan bilik tersebut untuk kemudian digunakan sebagai tempat telur yang baru. beberapa hari kemudian, dia memberi makan larva larva yang lain dengan membawakan sari dari bunga.
begitulah kurang lebih hidup lebah yang penuh semangat dan karya.
ALLAH memerintahkan manusia dalam firmanNYA pada surat Al Insiroh ayat 7 :
maka apabila kamu telah selesai(dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh sungguh urusan yang lain.
  • Bekerja dalam jamaah yang terorganisasi dan patuh
lebah selalu bekerja sama, dalam kelompok. ketika mereka menemukan sumber makanan, maka akan segera diberitahukan lokasi makanan tersebut kepada lebah lebah yang lain, ketika menemukan musuh yang mengganggu akan segera diberitahukan kepada lebah lain untuk membantu.
tidak pernah juga kita menemukan seekor lebah pekerja yang berubah menjadi ratu lebah, mereka bekerja secara profesional sesuai dengan kemampuan mereka masing masing, sehingga urusan mereka bisa diselesaikan dengan baik. coba bandingkan dengan manusia, indonesia khususnya, ketika urusan dipegang oleh orang yang tidak berkompeten, maka kekacauanlah yang akan terjadi.
tidak pula kita temui kudeta diantara lebah lebah tersebut, mereka patuh pada ratu mereka, ketika ratu mereka pindah, lebah lebah akan segera membuat sarang ditempat baru tersebut.
ALLAH berfirman :
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yangberperang di jalan-Nya dalam barisan yang teraturseakan-akan mereka seperti suatu bangunan yangtersusun kokoh.[QS as shaff ayat 4]
  • Tidak menyerang kalau tidak diganggu
lebah tidak pernah menyerang makhluk lain kecuali mereka merasa terancam. ketika mereka merasa ada yang mengusik keamanan mereka, mereka siap mengorbankan jiwa untuk mempertahankan “kehormatan”. ketika menyengat musuh, bagian tubuh lebah akan sobek, dan itu akan menyebabkan lebah mati.
tapi saya yakin, mereka bangga walaupun harus mati demi membela keamanan lebah lebah lain, keamanan sarang, keamanan keturunan keturunan mereka.
lebah yang kecil pun bisa melakukan hal hal hebat tersebut tanpa mereka diberi akal oleh ALLAH. kita manusia, muslim, apakah kita tidak malu kepada ALLAH yang telah memberikan kita kesempurnaan bentuk, akal, tetapi kehidupan kita, sifat kita, tidak lebih baik dari pada lebah.
mari kita perbaiki semua ini, sebelum ALLAH menarik semua ni’mat yang telah DIA berikan kepada kita…

Masalah adalah ujian pendewasaan. Jadi tidak ada...

lintas alam: Masalah adalah ujian pendewasaan. Jadi tidak ada...: Masalah adalah ujian pendewasaan. Jadi tidak ada alasan menyalahkan orang lain. Benahi diri sendiri dan jadi pribadi yg dewasa. Setia...

lintas alam: Persahabatan

lintas alam: Persahabatan: Persahabatan, sahabat memang sangat penting ya dalam hidup ini, bahkan beberapa orang menyatakan lebih penting mana antara sahabat deng...

Minggu, 30 September 2012

Dari situ...!!!

Dari situ, dia mulai menyesal. Kenapa dia tak menekuni pekerjaan yang dia sukai dulu? Kenapa harus selalu mencari pekerjaan yang gajinya tinggi? Dan kenapa dia tak mau kalah dengan gaji temannya?

Oleh: RAHMAT " GEMBEL BERDASI"|
Waktu kuliah, saya punya teman yang sudah bekerja. Jadi sambil kuliah, dia sudah bekerja. Karena bekerja, tentu saja tampilannya beda. Kalau yang lain pakai t-shirt, jeans dan sepatu olah raga, dia sudah berkemeja, celana kain dan bersepatu kulit. Saya sungguh iri melihatnya. Keren sekali.
Kelak, setelah saya lulus, dia berganti-ganti pekerjaan. Padahal saya melihat pekerjaan sebelumnya sudah bagus dan mapan. Saya heran. Dari teman lain, saya dengar cerita bahwa dia berganti-ganti pekerjaan, karena tak mau kalah dengan temannya.
Begitu, dia tahu temannya gajinya lebih tinggi, dia akan pindah mencari pekerjaan lain. Tak peduli, apakah dia suka di bidang itu atau tidak. Yang penting, gajinya bisa sama atau lebih dari temannya. Terus begitu.
Sampai suatu ketika, perusahaan yang diikuti tak bagus performancenya, dia kena PHK. Karena sudah berkeluarga, akhirnya dia asal mencari pekerjaan. Yang penting dapat duit.
Dari situ, dia mulai menyesal. Kenapa dia tak menekuni pekerjaan yang dia sukai dulu? Kenapa harus selalu mencari pekerjaan yang gajinya tinggi? Dan kenapa dia harus peduli dan tak mau kalah dengan gaji temannya?
Kerap kita sering seperti teman saya, berburu kebahagiaan. Namun justru kebahagiaan yang sudah didapat, diabaikan. Padahal setelah mendapat apa yang diburu, belum tentu mendapat kebahagiaan yang diinginkan.
Dari kejadian teman saya itu, saya mendapat pelajaran tentang kebahagiaan hidup. Ada 5 hal yang bisa kita hindari, dimana kalau kita melakukan kita bisa mendapat kebahagiaan hidup.
1. Berhenti berandai.
Anda berandai-andai, kalau setelah mencapai sesuatu anda akan bahagia. Anda baru merasa bahagia, setelah anda menjadi manager. Padahal setelah jadi manager, anda bertambah sibuk. Waktu pribadi anda berkurang.
“Saya akan bahagia, kalau jadi direktur”. Atau berlanjut, dirjen, menteri, presiden dan seterusnya. Anda terlalu obsesi, “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Padahal yang terjadi, “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang entah kapan.”
Kebahagiaan anda letakkan di waktu yang jauh. Padahal, sebenarnya kebahagiaan itu sudah bisa anda nikmati sekarang. Sudah dekat, yakni di sini!
2. Mengejar kebahagiaan justru membuat tak bahagia.
Anda yakin bahwa anda akan bahagia bila semua keinginan anda terpenuhi. Padahal waktu memburu keinginan itu, anda menjadi tegang, cemas, frustasi, gelisah dan takut. Kalaupun keinginan anda terwujud, yang sering terjadi hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat. Itu tak sama dengan kebahagiaan.
3. Selalu membandingkan dengan orang lain.
Ini seperti kasus teman saya di atas. Melihat temannya bergaji lebih tinggi, dia tak mau kalah. Karena dia merasa sama bahkan mungkin lebih tinggi dari temannya. Padahal antara manusia satu dengan manusia lain, berbeda pula keadaannya. Dan yang kita lihat hanyalah ‘kulit luarnya’.
Kita tak tahu, apakah dengan gaji besar, dia menjadi makmur atau malah justru pengeluarannya lebih banyak. Kita tak tahu. Berhentilah membandingkan dengan orang lain.
4. Melihat pada apa yang tidak dimiliki.
Ini seperti pepatah kuno, “berharap elang di atas, burung punai di tangan dilepaskan”. Anda mungkin sudah memiliki pekerjaan yang mapan dan rumah yang layak. Tapi anda berusaha mengejar rumah yang lebih besar dan mewah, mobil yang lebih bagus dan bermerk, peralatan keren dan mahal dan sebegainya.
Pikiran anda dipenuhi keinginan benda-benda yang anda kira dapat membahagiakan. Padahal, anda tidak bahagia, karena lebih memusatkan perhatian pada segala hal yang tidak anda miliki. Dan bukannya pada apa yang anda miliki sekarang.
5. Ingin mengubah orang lain.
Anda percaya, anda dapat bahagia bila situasi dan orang-orang sekitar anda sesuai dengan keinginan anda. Anda tak bahagia karena pasangan, anak, tetangga, teman kantor, atasan bersikap tidak seperti yang anda inginkan.
Sadarilah, mengubah orang lain sangatlah sulit. Dan haknya mereka untuk bersikap demikian. Bukannya berarti anda boleh berhenti mengubah orang lain. Teruskanlah, anda berusaha mengubah orang lain.
Tapi jangan tempatkan kebahagiaan anda pada perubahan orang itu. Jangan biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar Anda membuat anda tak bahagia. Kalau anda tak dapat mengubah mereka, yang perlu anda ubah adalah diri anda sendiri. Paradigma anda.